jump to navigation

Contoh Kasus Dalam Lingkungan 23 Mei 2010

Posted by Nuzul Adam Sullivan in Tugas Kewarganegaraan.
trackback

Kita sebagai manusia dalam kodratnya adalah hidup berdampingan. Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain. Karena manusia adalah makhluk sosial. Apalagi dalam hidup bertetangga. Hidup dalam lingkungan itulah kita sebagai manusia dapat menjalani kodratnya sebagai mahkluk sosial. Karena dalam lingkungan tetangga kita jadi bisa tahu tentang karakter dan watak orang lain, belajar bergotong royong, saling membantu sesama, juga bisa membuat lingkungan tersebut dapat menjadi tempat tinggal yang baik tentunya.

Pada kesempatan ini saya mendapat tugas mencari satu kasus atau masalah dalam lingkungan tempat tinggal saya. Bukan bermaksud mencari kesalahan orang lain, namun kita dapat menjadikannya sebagai suatu pembelajaran. Selain itu kita juga dapat mengambil hikmahnya.

Saya akan mencoba menceritakan pengalaman saya dalam menghadapi suatu masalah di lingkungan tempat tinggal saya. Saya juga tidak bermaksud menyakiti pihak manapun.

Seperti biasa menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia, di lingkungan saya mengadakan berbagai acara untuk memeriahkannya. Termasuk lomba-lomba untuk para warga dan malam puncak sekaligus acara syukuran. Waktu itu tahun 2008 menjelang malam puncak, yang acaranya antara lain penyerahan hadiah untuk pemenang lomba dan syukuran, terjadilah perselisihan dalam kepanitiaan. Berawal dari pembicaraan tentang dana, dua orang panitia, yaitu J dan Y, menjadi berselisih. J mengusulkan untuk membeli hadiah bagi para pemenang lomba. Namun Y bersikeras bahwa dia yang berhak untuk membeli hadiah karena dia yang memegang uang. Mungkin maksudnya benar. Tapi cara bicara Y yang terlalu kasar membuat J kesal. Salah paham terjadi. Akhirnya, walaupun hadiah tersebut jadi dibeli, kepanitiaan menjadi pecah karena suasana terlanjur kurang meng-enakan. Acara malam puncak jadi digelar dengan kondisi seadanya. J tidak ikut dalam acara waktu itu.

Perselisihan tidak berhenti sampai disitu. Keluarga Y jadi tertutup dengan J, juga dengan warga sekitar. Hampir setahun lamanya mereka berselisih.Kata “maaf” menjadi hal yang sulit untuk dibicarakan. Sampai pada awal tahun 2010 ini keluarga Y mendapat hidayah dan petunjuk dari Allah. mereka berkesempatan untuk berangkat umroh. Sebelum berangkat, Y berpamitan sekaligus meminta maaf kepada warga sekitar. Termasuk ke keluarga saya dan keluarga J.

Akhirnya, antara keluarga Y dan warga di lingkungan tempat tinggal saya dapat berjalan harmonis kembali seperti dulu. Saya berharap kejadian ini dapt menjadi pembelajaran kepada kita semua. Agar hubungan kita dengan tetangga maupun dengan orang lain tidak terjadi permusuhan.

Terima Kasih.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: